Kata Kadis LH Melandrat: Hampir 1,8 Hektar TPA Bengkala-Bungkulan Terbakar

Dikabari.com | Singaraja – Keluhan masyarakat Kubutambahan yang berdampingan dengan TPA Bungkulan Kecamatan Sawan dimana saat ini warga sekitar sering alami sesak napas akibat asap mengepul akibat terjadinya kebakaran sampah di TPA tersebut.

Pantauan awak media pada Rabu (14/7) pukul 08.10 wita di depan Kantor Camat Kubutambahan, asap masih terlihat masih ada dan berbau sangat mengganggu pernapasan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng Gede Melandrat dikonfirmasi tak menampik selain dibenarkan warga sekitar TPA dikepung asap juga TPA Bungkulan yang melawati jalan Desa Bengkala juga sering mengalami kebakaran.

“Ini musibah namanya, kami sudah bersurat dua bulan lalu ke Desa Bengkala , Kubutambahan dan Kecamatan Sawan dengan adanya kebakaran TPA Bengkala. Hal ini disebabkan factor alam disana timbul gas metan dan sangat rawan sekali terjadinya panas dan mengalami letupan-letupan kecil di TPA. Dan ini juga dipicu akibat sampah yang tidak terpisah mana organic dan organic, B3 . Sampah yang sudah menumpuk puluhan tahun itu terjadi kebakaran,” kata Gede Melandrat.

Mantan Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), saat di hubungi Selasa (13/7) pukul 21.00 wita mengaku masih di lokasi TPA Bungkulan. Sampah di TPA tersebut saat ini tempat penampungan sampah yang tersisa tinggal satu, yakni di blok pertama yang kondisinya pun juga sudah mulai overload.

“Ini kami masih dilokasi TPA melakukan pemadaman bersama anggota, kalau siang juga Damkar Buleleng juga kita minta membantu, Kami sudah lakukan ini 1 x24 jam ”papar Gede Melandrat.

Menangani akan terjadinya wabah dan masyarakat tidak terjangkit penyakit seperti sesak nafas. Pihaknya akan berupaya selain tetap berupaya memadamkan asap tersebut selain itu sulitnya tanah disekitar untuk menutup asap tersebut, sehingga tanah galian Bendungan Tamblang harus digunakan.

“Ada teknis-teknis yang semestinya dulu dilakukan juga mengelola sampah dengan sistem sanitary landfill, dengan memanfaatkan urugan tanah yang berasal dari proyek Bendungan Tamblang untuk menutup lapisan. Kami usahakan hari mengambil tanah , kalau kita hanya gunakan air itu tidak mampu,” jelasnya.

Saat dilokasi timbulnya letupan dari berbagai sudut baik sisi barat, utara, selatan dan tengah. Kondisi overload di TPA Bungkulan yang mana warga menyebut Bengkala, Gede Melendrat belum bisa memastikan akan dipindah ke Barat Buleleng TPA tersebut.

“Dari LH sudah mengusulkan, tentunya kembali lagi dari pemerintah daerah. Ini sebuah tatanan baru untuk kita bisa tata kelola sampah berbasis sumber. Pengelolaan sampah tidak hanya berpangku di pemerintah saja tetapi sampah masalah kita bersama yang harus ditanggulangi dan kurang disiplinya masyarakat. Kalau hanya sekedar mencarikan lokasi di barat dan kalau kita terus bertumpu pada pemerintah tetap akan seperti ini terjadi’, ungkapnya.

Melandrat selain berharap masyarakat untuk lebih bijak dalam pengelolaan sampah, pemerintah daerah juga menurutnya telah mengupayakan untuk memperluas lahan namun terhadang covid-19.

“Harapan saya masyarakat dari sumbernya bagaimana dan mampu memilah sampah dengan menerapkan sistem 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) dan nantinya akan lebih mudah menata kelola sampah yang disuplay masyarakat itu sendiri ketempat pemrosesan,”terang Gede Melandrat.

Dengan upaya keras ini Kadis Gede Melandrat atas dampak negative yang ditimbulkan akibat timbulnya gas metan sehingga terjadi kebakaran diharapkan masyarakat terkena dampak,.

“Dengan musibah ini kami mohon maaf kepada masyarakat yang terkena asap atas tata kelola sampah di TPA Bungkulan. Saya berharap warga tetap menggunakan masker karena selain covid juga asap yang sangat mengganggu pernapasan,” kata Melandrat.

Des

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *