Empat Pegawai Dinas Kebudayaan Buleleng Piawai Menari Bali 

Dikabari.com | Singaraja –Belajar menari khas Bali emang gampang-gampang susah kalau niat dalam diri sendiri tidak tertanamkan secara serius, jika hanya sekedar dan viral tanpa memperhatikan etika dan menjaga budaya akan dikecam netizen.

Namun berbeda apa yang di lakukan 4 pegawai Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, dibawah kendali Kadis Gede Dody Sukma Oktiva Aksara.

Empat pegawai dinas mementaskan kepiawaianya dengan berbagai lekukan menari diacara “Workshop Hasil Evaluasi Penyaluran dan penggunaan dana desa untuk penanganan Covid dan PPKM mikro di Desa” di gedung Exs Pelabuhan Buleleng Selasa (29/6) yang digelar Pemkab Buleleng.

Salah satu penari wanita muda berparas cantik Ni Putu Yunita Dewi (22),  diminta untuk berstetmen dengan wajah imut kendati sedidkit gugup kepada Dikabari.com mengatakan kalau menekuni sekali menari sejak di SMK.

“Karena di SMK ada pilihan jadi saya ambil jurusan tari. Sebelumnya sih sekedar hobi, pas di tingkat SMK guru sekolah mengajak kami pentas di hotel-hotel dalam acara dan kami lebih menekuni arti sebuah budaya. Dan disana kami dapat tambahan merias pribadi, kalau hobi dibilang dari sejak kecil ia juga karena orang tua dulu memantau baru mendengarkan suara gambelan sudah mulai tangan nari-nari,” ungkap Yunita Rabu (30/6/2021 )di Kantor Dinas Kebudayaan.

Gadis muda asli Kelurahan Banjar Tegal, Buleleng yang sempat mengenyam pendidikan di SMK 1 Sukasada kini berusia (22) dan menjalani kuliah di falkutas STAH semester 8 lebih lanjut mengatakan sebagai pegawai dinas kebudayaan yang memikili foksi melestarikan budaya adat di Bali mengungkap peran masayarakat lebih penting,

“Kalangan masyarakat ada kala dimanapun kalau suka dengan tradisi dan budaya Bali, tekuni saja. Namun jangan terlalu dipaksakan atau sekedar mengikuti dan jangan jadikan tradisi Bali tergerus dengan budaya aneh seperti viralkan di tiktok dikombinasikan tanpa menghilangkan budaya Bali itu sendiri,” kata  Yunita didampingi Trisna.

Tarian kreasi yang dipentaskan kemarin itu kendati tidak bernama namun merupakan hasil kolaborasi yang menyesuaikan bunyi gamelan dengan menggunakan pakian tarian Selat Segara, “terang Komang Trisna Damayanti.

Sementara Kadis Kebudayaan Gede Dody Sukma Oktiva sangat mensuport pegawainya mampu melestarikan budaya Bali. Sehingga masyarakat Buleleng pada umumnya tidak lepas dengan hal itu untuk menjaga keajegan Bali.

“Kita tetap suport baik pegawai atau masyarakat umum untuk menjaga budaya kita sendiri dari kepunahan yang diakibatkan perkembangan jaman. Selama ini kita melihat diberbagai desa masyarakatnya telah mulai bangkit meningkatkan beberapa tarian kreasi. Kami tetap berharap mari jangan meninggalkan budaya kita sendiri yang ada di Bali,” papar Kadis.

Des

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *