Sen. Jan 20th, 2020

Dies Natalis STIE Ganesha ke-XXVI Kembali Selenggarakan Seminar International Mengenai Tantangan Menghadapi Era Society 5.0

5 min read

Ciputat, Tangerang, Dikabari.com – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ganesha Jakarta selenggarakan kembali Seminar International Mengenai Tantangan Peningkatan Daya Saing Ekonomi Dalam Menghadapi Era Society 5.0, Sabtu (14/12/2019) di Auditorium Wisma Syahida Iin Jakarta.

Seminar bertajuk ‘Strengthening role of Higher Education in the Industrial Revolution 4.0 and 5.0 Society’ tersebut sekaligus dalam rangka menyemarakan Dies Natalis Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi  (STIE) Ganesha Jakarta ke-XXVI. Seminar ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman mengenai tantangan peningkatan daya saing ekonomi dalam menghadapi era society 5.0. Dan memberikan pemahaman kepada perserta mengenai kemampuan yang diperlukan dalam menghadapi era society 5.0.

Tema tersebut didasari bahwa generasi muda merupakan generasi penerus bangsa, harus siap dalam menjalankan society 5.0 untuk memajukan indonesia dan membawa kehidupan masyarakat lebih baik lagi.

Kegiatan Seminar Internasional ini merupakan bagian dari komitmen akademik dan keilmuan semakin meningkat yang terus dilakukan STIE Ganesha Jakarta. Ini sebagai perwujudan Geliat Perguruan Tinggi ini benar-benar  dapat ditunjukan dalam rentang waktu yang tak perlu lama. Fakta ini dapat dilihat dari berbagai kegiatan selain belajar mengajar di kelas. Juga ada kegiatan-kegiatan akademik yang berorientasi pada pengembangan ilmu dan pengetahuan masyarakat luas. Yang terus akan dilaksanakan di masa yang akan datang.

“Dimana perkembangan teknologi 4.0 membuka ruang luas bagi setiap orang untuk mengakses informasi tanpa batas melalui Internet of things,”5.0 society adalah counterpart dari kemajuan teknologi 4.0,” kata  Dr. Ahmad Mulyana. SE, MM, selaku Ketua STIE Ganesha Jakarta, pada pembukaan Seminar Internasional tersebut,

Seminar sebelumnya diadakan ada  tanggal 29 November 2019, yangmana Ilmu Ekonomi (STIE) Ganesha Jakarta mengadakan seminar Internasional manghadirkan Visiting Professor dari Jami’at Muhammad Khamis Rabat International University Maroko, Prof. Dr. Muhamad Rougy, dan Vice Chancellor for International Collaboration Affairs dari Al Qarawiyn University Maroko, serta Prof. Dr. Mohammed al Diouany.

Wakil Ketua Panitia Pelaksana, sekaligus Wakil Ketua Bidang Administrasi dan keuangan STIE Ganesha Syarif Hidayatullah, SE, MM merasa bersyukur atas upaya-upaya kongkrit pengembangan akademik dan pelayanan publik yang terus dilakukan STIE Ganesha Jakarta dalam beberapa waktu belakangan ini.

“Kami menyelenggarakan Seminar International bertema ‘Strengthening role of Higher Education in the Industrial Revolution 4.0 and 5.0 Society’. Tema yang diusung ini sangat up to date dan kontekstual dengan perkembangan teknologi 4.0 yang telah merubah secara drastis gaya hidup masyarakat modern, dari gaya manual menjadi Internet of things melalui sistem Android dalam genggaman tangan, HP. Dan masyarakat 5.0 dimaksud sebagai penguatan pengimbang (check and balance) agar teknologi dengan nilai-nilai sosial berjalan berdampingan dan saling menguatkan satu sama lain,” terangnya.

Putri Noor Damayanti, SE, MM menambahkan, bahwa Seminar yang diselenggarakan di Wisma Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengundang peserta dari berbagai universitas sebanyak 850 orang termasuk para tamu perwakilan negara-negara luar melalui Ambassador mereka di Jakarta sebanyak 20 orang.

Menurut Prof. Dr. Muhammad Said, MA, Direktur Lembaga Pengembangan Ekonomi Syariah dan Technopreneurs (LPETS) Ganesha Jakarta. Sekaligus Steering Commitee Seminar. Kegiatan yang dilalukan STIE Ganesha Jakarta, menilai sangat positif kegiatan-kegiatan akademik yang diselenggarkan STIE Ganesha Jakarta.

“Hal ini  membuktikan bahwa STIE Ganesha memiliki komitmen dan integritas kuat dalam melaksanakan fungsi pokoknya yaitu Tri Darma Perguruan Tinggi, terutama disseminasi pengetahuan secara luas kepada public. Dan pada dasarnya merupakan bagian penting dari pelayanan publik dan tanggungjawab keilmuan dan sosial kepada masyarakat luas (stakeholders),” ungkapnya.

Tak tanggung dalam penyelenggaraan Seminar Internasional ini, menghadirkan para akademisi dan praktisi yang memiliki keilmuan dan pengalaman yang luas, antara lain Prof. Dr. Rushami Zein Dean School of Business and Management University Utara Malaysia, Dr. M Syamsuri, S.Pd, MT, Pejabat LLDIKTI Wilayah III Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Culture; Prof. Dr. Muhtar Latief, Guru Besar dan Mantan Rektor IAIN/UIN Sulthan Thaha Syarif Qasim Jambi.

Prof. Dr. Rushami Zain membahas tentang peluang dan tantangan peningkatan daya saing ekonomi pada era 4.0 menuju era 5.0. Dia memberikan gambaran riel, tentang bagaimana  perusahaan yang tidak mampu mengadaptasi diri dengan perkembangan yang terjadindie out dari pasar. “Perubahan terjadi ketika new digital technology and business models (4.0) mempengaruhi proposisi nilai dari barang dan jasa yang ada. Sehingga menuntut perlunya dilakukan penilaian kembali (re-evaluation).

Di era desruptive ini akan banyak industri yang gulung tikar karena tidak mampu merespons perkembangan teknologi yang sangat drastic,” terangnya.

Dalam paparannya Dr. M Syamsuri, S.Pd, MT menyebutkan 4.0 membantu para pengguna teknologi menciptakan produk bisnis, membangun jaringan komunitas bisnis mereka secara lebih luas.

Menurutnya teknologi 4.0 membantu pengguna membangun nilai secara ekonomik, membantu membuka jaringan kerjasama yang bisa meningkatkan nilai tambah bagi bisnis mereka. “Selain itu, masyarakat 5.0 menuntut adanya exellent in Soft  Skill seperti kolaborasi, komunikasi yang baik dan perilaku yang baik terhadap sesama anggota masyarakat,” ujar Syamsuri.

Lebih lanjut Prof. Dr. Muhammad Said, MA juga sebagai narasumber  adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang juga Dosen Program Pascasarjana Magister Manajemen STIE Ganesha Jakarta. mengungkap bahwa perkembangan teknologi hari ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan estafet dari perkembangan peradaban manusia pada fase-fase sebelumnya, boleh dikata industri 1.0, industri 2.0, industri 3.0 dan sekarang 4.0. Karakteristik dari masing pencapaianlah yang berbeda satu dengan lain. 4.0.

“Bagi saya 4.0 is not standing alone out there, tapi bagian integral bahkan terinspirasi oleh kondisi perkembangan masa lalu yang dianggap tidak lagi selaras dengan perkembangan masyarakat moderen. Istilahnya, tiap masa ada penemuan yang berbeda, tiap penemuan memiliki karakteristik yang berbeda. 4.0 menuntut manusia bisa bekerjasama dengan robot, menguasai IT dan kemampuan komunikasi dalam bahasa asing,” terangnya.

Ia menambahkan, 4.0 menuntut  lembaga pendidikan tinggi meninggalkan pola tradisionil, merubah pola adminsitrasi manual menjadi online, investasi sumber daya manusia yang kreatif, mendorong pengembangan universitas berbasis teknologi, dan memperluas kolaborasi Internasional.

“Selain itu, 4.0 memunculkan cara baru belajar di Perguruan Tinggi dengan pola learning everywhere, learning is longlife, belajar dan bekerja adalah proses yang sama, kamous adalah organisasi belajar dan belajar melalui platform digital. Sedangkan 5.0 society menuntut keterbukaan terhadap perkembangan teknologi yang terjadi, sehingga impact yang dimunculkan memberi nilai tambah bagi kepentingan personal. Dan masyarakat 5.0 society menghendaki degradasi komunikasi sosial akibat IR 4.0 masyarakat yang saling menyapa, yang memanfaatkan data dari perkembangan teknologi untuk kemaslahatan yang lebih luas dan lebih kongkrit. 5.0 society telah melekat kuat pada masyarakat dengan kultur tepo saliro, tenggang rasa, gotong royong,” papar M Said.

Dalam konteks pendidikan 5.0 society di Indonesia harus tetap mengacu pada landasan kultural (budaya) Indonesia. Landasan sosiologis yang menghendaki masyarakat indonesia saling menjunjung tinggi harkat dan martabat setiap orang dan landasan lain dengan tetap bersikap inklusif pada perkembangan yang terjadi untuk kemajuan individual, masyakarakat, dan peningkatan daya saing bangsa dan negara,” imbuhnya.

Sementara itu Prof. Dr. Muhtar Latief memaparkan tentang Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Era  Revolusi Industri 4.0 menuju Era Society. Ia menyampaikan bahwa  semua kemajuan teknologi  mengajak audiensi untuk mengifentifikasi generasi mana dari tahap generasi yang ada Baby boobers, generasi x, generasi y, generasi z, generasi alpha.

“Baby bombers generasi yang diibaratkan sunset, matahari yang segera terbenam. Jumlah millenial hari ini mencapai 90 juta jiwa. Generasi Millenial 62.570.920 tenaga kerja,Generasi x 69.003.270 tenaga kerja. Sisanya adalah baby bombers yang mununggu detik detik terakhir dunia kerja,” ungkapnya.  Fahmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *